Pemilos SMANSA Ungaran

19.51 Tasa Sekar ✿ 0 Comments

Siswi bertubuh semampai itu berdiri anggun di depan pintu keluar aula SMA 1 Ungaran. Namanya Selfira Milarosa. Parasnya ayu, kalem, dan senyumnya ramah. Kamu pasti nggak bakal nyangka kalau ia ternyata adalah si penjaga keamanan di ''hajatan besar'' SMA terfavorit se-Ungaran tersebut.
Kelihatannya sih kalem. Tapi kalau ada yang nolak ikut aturan, misal nggak mau tangannya distempel, tanpa segan ia bakal langsung turun tangan menghardiknya. Lo, lo, apa nih kok stempel-stempelan segala? Pakai seksi keamanan pula!
Eits, tenang, nggak anarkis kok. Selfira cuma menghardik sambil bercanda. Kan yang dihardik juga teman sekolah sendiri. Ia cuman lagi bertugas sebagai panitia hajatan yang nggak lain adalah Pemilihan Ketua OSIS (Pemilos) 2011.
Acara yang digelar pada Kamis (17/11) lalu itu khusus untuk tahun ini memang sengaja dibikin lebih formal dari sebelumnya. Pokoknya dibuat layaknya Pemilihan Umum (Pemilu) Presiden RI deh. Yap, di Pemilu ada seksi keamanan juga kan ya? Hehe.
Tapi, nggak itu saja lo,Teman. Hampir semua hal teknis, mulai dari tata cara pemilihan, kepanitiaan, dan para peserta, dibikin semirip mungkin kayak pemilu. Susunan acaranya juga setali tiga uang: orasi pemaparan visi en misi, tanya-jawab, hingga kampanye terbuka, yang langsung dilanjutkan pencoblosan, penghitungan suara yang diketahui saksi, dan pengumuman suara, semuanya Pemilu banget.
Nggak kayak tahun-tahun sebelumnya, Pemilos 2011 kali ini memang dibikin lebih formal dan sistematis. Hal ini, menurut Selfira, bakal jadi kayak pemilu ''kecil'' atau miniatur pemilu, biar nggak canggung kalau pas nanti mereka menghadapi pemilu yang asli.
''Sebentar lagi kami kan 17 tahun. Kami adalah pemilih pemula. Jadi adanya Pemilos yang disetting mirip pemilu ini bisa jadi gambaran kami semua.''
Lebih dari itu, Melia Asti Agustian, sang koordinator acara, juga membuat model tersebut agar teman-teman belajar berdemokrasi yang sehat. Hm, belajar ikut mikirin solusi untuk negara (baca: sekolah) juga kali ya!
Untuk itulah, kata Melia, peserta pemilih dalam pemilos ini diambil dari seluruh elemen sekolah, mulai dari siswa, guru, en semua karyawan. Agar semuanya sejajar. Jadi sama-sama ikut menentukan nasib pemerintahan (OSIS) ke depan. ''Ya, setidaknya ikutan prosesnya,'' seru dia.

Masih Canggung
Meski sosialisasi pemilos yang mempertemukan tiga pasang calon itu sudah dilakukan jauh-jauh hari, ada juga lho pemilih yang masih tampak bingung dan canggung. Apalagi pas masuk Tempat Pemungutan Suara (TPS).
Pengalaman ''mendebarkan'' itu salah satunya dialami Adhitama Noor Idninda. Karena nggak begitu mudeng pas dapat giliran masuk TPS, siswa kelas X 5 tersebut milih ikut saja apa yang dilakukan teman sekelasnya, Cahyo Widhiarso.
Dengan tampang tegang, Adhitama ngantri di ruang tunggu, mengambil kertas suara, mecoblos di bilik suara, hingga prosesi akhir memasukkan bukti pilihan ke kotak suara bersegel. Ia baru lega setelah panitia yang kala itu ''berseragam'' batik menstempel tangan kanan Adhi sebagai tanda telah mencoblos.
Namun, berkebalikan dengan Adhitama, ada juga yang justru menikmati banget prosesi pemilihan itu. Salah satunya Wulan Suci. Mulai dari visi, misi, sampai pencoblosan ia pantang melengos. ''Ini adalah pelajaran buatku, untuk persiapan Pemilu nanti. Aku kan bakal sudah jadi pemilih!'' terangnya bersemangat.
Hm, memang begitulah harapan panitia dan KPU Kabupaten Semarang selaku partner pembina: dari yang canggung menjadi tahu, yang tahu semakin tahu, dan yang sudah tahu banget nggak jadi apatis. Seenggaknya, itulah satu niatan kecil yang berhasil dirangkum Zahra Sofil Aula, ketua MPK cum Panitia Pengawas Pemilos.
Ya, semoga demokrasi itu bisa jadi pelajaran, nggak cuma buat ''rakyat'' SMA 1 Ungaran saja, tapi juga untuk kita semua, para calon pemilih pemula penentu bangsa.

You Might Also Like

0 comments: